FIGHT NEVER ENDING

  • Prosa /
    27 Dec 2011

    Ketika Cokelat Membunuh Jenuh

    Pada suatu ketika, berkas-berkas yang berserakan dan menumpuk dimeja kerjaku kian hari kian menjenuhkan dan hampir saja membuatku ingin meraupnya dan melemparkan semuanya ke tempat sampah dibawah meja, cepat-cepat sadar diri, aku makan dan hidup dari mengurusi semua tumpukan berkas itu. Segera ku telaah semua, ku bolak balikan semua berkas itu, namun hanya dengan merenungi tak akan selesai urusan dengan berkas itu, tapi jenuh itu benar-benar tak bisa dikompromi. Pergi sebentar ke pantry, lihat locker peranti makanku di sana, ah waktu tak bisa berlalu begitu saja dengan diiringi kejenuhan, kuraih si Gerhana Cokelat dan kutuangkan serbuk cokelat plus milk non fat, kuseduh panas-panas, aroma cokelat itu nikmat menyatu dengan pemandangan tempat si cokelat itu tertampung. Kutaruh berdampi
  • Prosa /
    31 Mar 2011

    Sadar.....Sadar.....

    Jiwa setengah terisi setengah kosong itu kini sibuk meliuk liuk, matanya liar mencari cari sebagiannya yang kabur dan tak balik ke raga secara utuh, bertanya sana sini sambil mencari si penyebab hilangnya sebagianruh itu, awalnya si jiwa tidak mempermasalahkan apa yang terjadi, yang penting sudah bisa membantu si raga untuk menggerakkan tubuh dan melakukan aktivitas manusia pada umumnya, namun lama lama si jiwa tak mampu lagi menyokong raga yang banyak keinginan, yang banyak tuntutan dan merengek rengek ingin sesuatu diluar jangkauannya. Sementara si jiwa yang hanya berisi sebagian dan terbatas, dipompa tenaga dan pikirannya untuk memenuhi permintaan si raga. Akhirnya si jiwa sibuk mencari kesana kemari sebagian jiwanya yang entah kemana kaburnya, demi memenuhi tuntutan raga yang tak bert
  • Prosa /
    24 Aug 2010

    Lelaki dan Bunga Tanjung

    Lelaki dewasa tinggi kurus, dengan rambut agak panjang terikat kebelakang, janggut tipis menghiasi dagunya dan selalu mengenakan kaus oblong putih dan celana jeans biru, hampir setiap hari terlihat duduk terpekur dibangku kecil yang terdapat di bawah pohon tanjung yang tinggi dan lebat. Biasanya lelaki itu datang kalau tidak pagi sampai siang, atau siang sampai sore hanya duduk tercenung dan sesekali memungut bunga bunga tanjung yang jatuh berhamburan ke tanah, tak terlihat raut muka yang galau atau putus asa, penampilannya terlihat bersih, hanya pandangan kosong dan tatapan dingin yang terlihat. Siang itu hujan lebat dan angin begitu kencang, tetapi lelaki itu tak beranjak meskipun badan dan rambutnya diguyur air hujan dan mukanya diterpa angin kencang, lelaki itu terlihat menggigil sam
  • Prosa /
    19 Feb 2010

    Kisah Sebuah Ranting

    Ketika ranting ranting menghempas jatuh meninggalkan pohon induknya, akibat badai yang menyapa terlalu dalam sehingga merapuhkan ikatan ranting dengan sang induk. Ranting terkulai layu, namun tanah tempat jatuh selalu bercerita tentang kehidupan yang membuat ranting mencoba untuk bangkit kembali memunculkan tunas tunas tempat bernafas yang baru tanpa mesti menghiba pada pohon induk atau pepohonan yang ada disekitar tempat ranting berdiam, sang ranting bertekad untuk tumbuh tanpa harus ada belas kasian atau pertolongan. Ranting ingin menjalankan takdir nya dengan jerih payah nya sendiri keringat nya sendiri tanpa ada faktor jasa dari hal lain atau belas kasihan Perjalanan ranting ditanah telah cukup panjang, berusaha sekuat tenaga mencari nafas, menambal patahannya dan menyembuhkan
  • Prosa /
    25 Jul 2009

    Daun Talas

    Ingin disaat saat tertentu jiwa ini tak berjejak Ketika kemarin bertandang pada ruang penuh debu Dimana ruang itu digelayuti segala tuntutan Tuntutan segala idealisme yang berbau feodal Ingin pula rasanya jiwaku mengalir saja tanpa beban Tanpa mengingat ingat semua debu, badai yang pernah hinggap Karena disaat debu dan badai itu ingin bersahabat Dan mengibarkan bendera putih tanda perdamaian Hatiku tidak terpengaruh oleh jejak jejak yang menyuruhku untuk tetap menjauhi dan memasang benteng tinggi pertanda tidak ingin menerima perdamaian itu. Walau ternyata debu dan badai itu tidak bermaksud ingin membuat ruang itu menjadi kacau kembali. Aku akan berusaha agar pikiranku pada saat tertentu seperti daun talas yang tak pernah meninggalkan jejak jika air jatuh padanya.
  • Prosa /
    23 Jul 2009

    No Challenge and No Surrender

    Nothing that my goal abundant Only want to fulfilled need today To conduct what should i do With full-heart to my life Nothing that become goals forced If it is true my portion is so much Nevertheless try and endeavour eforts I do For all the best My physical , my heart and all that there is surroundings It is not my property absolutely If all disappear suddenly I will try stabilize face lose that In my defencelessness is not mean surrender Nevertheless remain to cope and attempt During there is opportunity And time that remained.
  • Prosa /
    2 Jun 2009

    Aku Tidak Mau Tau

    Diluar sana ada yang mengetuk pintu Kurasa tak perlu kubuka Karena sudah bukan layaknya lagi menerimanya Walau sebagai tamu Walau tamu itu menawarkan segala hal Bersedia dibebani syarat Memelas ingin kembali masuk Dan bertubi tubi mengungkap penyesalan Namun aku tetap tidak mau tau.
  • Prosa /
    24 Dec 2008

    Lembur Kuring

    Nineung ka pungkur, ka lembur anu nyingkur Teu weleh aya karaos tentrem tur sugema Emut ka pakarangan nu ngemploh hejo, sawah anu hegar sareng cai anu nyurulung tina pancuran. Endah tur asri matak mapaes hate anu sono kana reureuh tina raramean kota Sono ka abah, ambu sareng baraya anu sauyunan, sahate, welas tur asih Duh lembur, sing ulah kabawa ku sakaba kaba sim kuring sono kana kahejoan anjeun. NB ==> Prosa ini kupersembahkan untuk kampung halaman tempatku lahir di Garut Bandung, maaf kalau banyak teman teman yang tidak mengerti Bahasa Sunda, saya beri sedikit terjemahan ya, tulisan diatas menggambarkan betapa saya rindu tempat kelahiran saya yang dahulu hijau dan sejuk dengan orang orang yang ramah dan penuh kasih sayang dan aku tidak ingin kampungku tercemar.
  • Prosa /
    12 Dec 2008

    Lilin

    Belantara hati yang menyelimuti jiwa Membuat lunglai tak bergeming Karena lelah mengerahkan upaya Agar tau arah dan tujuan diri beserta segenap jiwa Akan kemanakah melangkah? Apa yang harus diperbuat? Untuk mengisi ruang jiwa dan mengisi jatah kehidupan dari Nya Yang harus selaras dengan perjanjian kita dengan Sang Khalik Ketika ruh dirasukkan kedalam raga Ketika kutemukan lilin yang bisa menerangi Ku raih lilin untuk dapat memberi petunjuk dan penerangan Agar jiwa tidak terlalu lelah untuk menemukan sesuatu Untuk bisa menjalani semua dengan arah yang pasti Lilin harus kita cari, kita ciptakan dan kita sebar Walau ku tahu lilin mampu menerangi walau sendirinya terbakar Tetapi itulah wujud ikhlas.
  • Prosa /
    5 Dec 2008

    Berpisah untuk erat

    Jika kita duduk dan berdiri bersama tanpa jeda Jika tulisan tanpa spasi Tidak akan pernah ada makna tersirat Tetapi jika kita bisa mengambil makna dari perpisahan, yang selalu kita artikan sebagai merasa kehilangan dan duka lara. Menjadikan hal itu sebagai kesan dan pelajaran agar bisa menguasai diri Bahwa saat berpisah ada sesuatu yang berharga yaitu rasa kerinduan dan kenangan yang bisa merajut persaudaraan yang abadi Saat ada jeda itu kita bisa lebih menerima sisi kebaikan yang akan terukir jelas “Unforgettable Goodbye” Inspire from Dewi Lestari Simangunsong Bagaimana sahabat Blogger dalam menyikapi perpisahan? Share ya