FIGHT NEVER ENDING

  • Dari Hatiku /
    13 Oct 2015

    Resolusi Tak Harus Selalu di Akhir Tahun

    Biasanya menjelang akhir tahun dan menjemput tahun baru, sibuk melakukan resolusi, baik ditulis, direkam, direnungi atau dengan cara-caranya sendiri. Melakukan resolusi biasanya diawali mengumpulkan peristiwa lalu dalam memori lalu mengevaluasi dengan memilah, mana yang baik dan buruk. Ada keinginan untuk lebih baik dari masa lalu. Dan mencatat apa yang perlu diperbaiki, apa yang perlu ditambah dan apa yang perlu dikurangi. Ini upaya terbaik untuk menciptakan diri yang berkualitas ke depannya. Semua poin bisa dicatat juga bisa direkam dalam ingatan. Setelah itu, dilakukan upaya untuk mencapai resolusi tersebut. Melakukan resolusi tentu harus jujur mengevaluasi diri. Mengakui kekurangan diri apa adanya dan tidak menutup mata akan kesalahan serta kekurangan diri. Karena “Kelemahan yan
  • Dari Hatiku /
    4 Sep 2015

    Kejutan Indah Di Hari Pelanggan Nasional 2015

    Mengawali Bulan September 2015, saya meeting Pokja Serempak di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Saya semangat mengawali pagi yang segar. Segaja berangkat lebih pagi karena saat itu akan ada demo buruh yang akan memenuhi sepanjang jalan sudirman, tepatnya dari Bundaran HI sampai Bundaran Patung kuda. Ini jalur yang saya lewati. Alhamdulillah sampai pagi sekali. Walau belum ada yang hadir saya tetap mengisi pagi dengan membaca dan sesekali mengecek timeline dan berita melalui gadget. Perkiraan meeting akan sampai sore hari, tapi jam 13.00 sudah selesai. Saya memutuskan memenuhi ajakan Kak Zizy untuk ketemuan di Kedai Kopi Stomping di kawasan Blok S Jakarta. Takutnya ada yang penting, soalnya seminggu sebelumnya Kak Zizy wanti-wanti sekali supaya saya hadir pada ta
  • Dari Hatiku /
    6 Jul 2015

    Komitmen Untuk Menjadi Freelancer

    Photo By : pixabay.com Photo By : Pixabay.com “Enak mana menjadi pekerja tetap atau freelancer?” Begitu pertanyaan yang sering terlontar. Menurut saya sama saja, bedanya hanya pada soal penggunaan waktu saja. Dan menjadi freelancer sebelumnya pasti punya story yang melatarbelakangi, seperti saya. Hobi yang sudah melekat sedari kecil itu bagaikan soulmate, mengalahkan profesi dari hasil pendidikan formal. Saya dulu kuliah mengambil jurusan Akuntansi karena dorongan orangtua, tapi saya tak menyesal. Karena dengan masuk Akuntansi, saya bisa merasakan kerja kantoran di berbagai perusahaan, mulai dari perusahaan jasa, perusahaan dagang dan PerusahaanAirline. Dari sana, saya belajar banyak meng-handle orang dan berbagai item job description alhamdulillah hasil pendidikan bisa te
  • Dari Hatiku /
    7 Mar 2015

    Buka Rekening Tabungan Dari Rumah

    Kelahiran Bank Sinarmas di Tahun 1989 telah memiliki 380 cabang di 120 kota dan telah menjadi Bank Devisa. Untuk memaksimalkan layanan, didukung perkembangan dunia digital, kini Bank Sinarmas buka tabungan onlineBank Sinarmas. Ini merupakan cara praktis buka tabungan tanpa harus datang ke bank. Layanan pembukaan rekening via online ini, sebagai upaya untuk memberdayakan masyarakat yang masih unbank, masyarakat yang belum pernah membuka rekening tabungan karena kendala jarak dan waktu. Banyak masyarakat pedesaan atau yang jauh dari kota besar ingin mendapat dana pinjaman dari Bank untuk usahanya, tapi mengalami kesulitan, alasannya, selain masalah antre, juga kelengkapan dokumen yang dianggap sulit. Kehadiran Digital Bank Sinarmas, membuat solusi perbankan buat masyarakat yang kurang terj
  • Dari Hatiku /
    21 Feb 2015

    Sadar Penuh Hadir Utuh Untuk Merayakan Saat ini

    Zaman yang sudah terisi banyak orang pintar, kaya dan banyak keahlian. Persaingan ketat membuat dorongan kuat untuk melakukan sesuatu. Dalih memenuhi kebutuhan hidup, dengan cara radikal. Bekerja tanpa memedulikan hak tubuh untuk istirahat dan berpacu dengan waktu untuk mengejar target. Bahkan ketika target sudah tercapai, masih saja mengejar ambisi, demi perbekalan keturunan. Kadang, diraih dengan cara sikut sana sikut sini, menghalalkan segala macam cara dan menimbun banyak keinginan. Begitulah gambaran dinamika manusia masa kini. Mengejar impian tak salah, malahan berusaha itu harus. Tetapi semestinya diimbangi dengan jeda yang dapat menampung energi, memperbarui energi serta lebih maksimal dalam melakukan upaya meraih apa yang dituju. Di Griya Sukhacitta, yang terletak di kawasan Kem
  • Dari Hatiku /
    11 Nov 2014

    Pahlawan Yang Menyentuh Hati

    Awal Tahun 2013, setelah saya resign dari pekerjaan kantor saya sebagai akunting di perusahaan swasta di Tangerang Selatan, saya otomatis pindah tempat tinggal juga. Ketika menempati tempat tinggal baru, walaupun semua kebutuhan sudah terpenuhi, ada satu yang membuat saya selalu gelisah. Adakah tempat ngaji untuk anak saya seperti di tempat yang dulu? Karena ini adalah fondasi dasar, ilmu wajib yang harus dijalani sebagai bekal untuk sekarang dan selamanya. Lho? Bukannya saya sebagai orang tua bisa mengajarkannya di rumah? Bisa, tapi tak akan se optimal di tempat pengajian. Mengingat saya sendiri punya pekerjaan yang banyak ke luar rumah, kadang pulang sampai larut malam. Dengan pekerjaan sekarang yang waktunya fleksibel justru membuat saya tambah sibuk dari pekerjaan sebelumnya. Kegelis
  • Dari Hatiku /
    13 Sep 2014

    Kata Hati Bagaimana Yang Patut Diikuti?

    Di sebuah gedung bertingkat, ada studio musik yang megah, tiba-tiba sirine tanda terjadinya kebakaran di gedung tersebut berbunyi keras dan panjang, merang-raung. Semua orang yang ada disana panik bukan kepalang. Semua berhamburan turun tangga dan setibanya di lantai dasar, sebagian besar bergerombol ingin keluar dari pintu kanan yang lebih lebar sementara ada lima orang yang melewati pintu kiri. Tak lama lima orang yang keluar dari pintu kiri sudah selamat berada diluar gedung. Melihat banyak temannya yang lewat pintu kanan terjebak didalam halaman gedung yang tertutup benteng tinggi, lima teman yang selamat berusaha menjebol salah satu lobang di tembok benteng yang tertutup jendela kayu, beberapa diantaranya berhasil keluar namun masih banyak yang didalam dan terjebak dalam api yang kia
  • Dari Hatiku /
    17 Apr 2014

    Pentingkah Komunikasi Dengan Keluarga Besar?

    Saya masih ingat Ibu Emi, Guru PMP (Pendidikan Moral Pancasila) yang sekarang adalah PKN (Pendidikan Kewarganegaraan) saat itu saya masih SMP kelas 1 dan sedang giat-giatnya menyimak apa yang dipaparkan oleh setiap guru. Kebetulan PMP adalah salah satu pelajaran favorit saya, karena Ibu Emi jika mengajar tak hanya sekadar mengajar. Selalu ada cerita yang memuat pesan moral didalamnya, modifikasi antara pesan moral dari kejadian nyata yang akrab terlihat sehari-hari dipadukan dengan isi buku paket. Sehingga kami para siswa tak bosan menyimaknya, apa yang disampaikannya pun selalu membuat kami tak pernah ingin berakhir dalam mata pelajaran ini. Mudah diserap dan mudah diingat. Padahal Ibu Emi termasuk guru yang agak galak, berdisiplin tinggi dan tak semudah itu mentolerir siswa yang tak meng
  • Dari Hatiku /
    12 Mar 2014

    Kekuatan Memaafkan Dari Hati

    Manusia hidup yang punya perasaan semuanya pasti sudah pernah merasakan disakiti hati. Baik oleh perlakuan orang lain secara langsung maupun tidak langsung. Yang tidak langsung biasanya melalui sindiran atau perlakuan tidak menyenangkan lainnya. Menyikapi perasaan sakit hati, ada yang easy going ada juga yang pendendam. Yang easy going biasanya mudah memaafkan dan berperilaku seperti biasa lagi tanpa ada dendam atau unek-unek sedikitpun. Lain lagi dengan yang tipe pendendam, ia akan cenderung menyimpan rasa sakit hatinya dalam jangka waktu lama bahkan sampai tak bernyawa lagi. Hidup memang selalu ada yang pro dan kontra. Tak semua orang akan merasa suka dan dekat dengan kita. Sebagai manusia yang demokratis sebaiknya tak harus memaksakan orang lain untuk selalu pro kepada kita
  • Dari Hatiku /
    28 Feb 2014

    Jangan Abaikan Potensi Diri

    Jejaring sosial memang sangat efektif mempertemukan teman lama. Sekalipun dengan yang sudah tak pernah kontak lagi. Alya, salah satunya. Dia teman kuliah saya yang beberapa minggu lalu janjian di chatting facebook lalu besoknya pas jam makan siang bertemu di sebuah Mall di kawasan Sudirman. Alya masih tetap segar penampilannya walau sudah punya 3 anak. Kami ngobrol sambil menikmati makaan siang. Sedikit curhat, Alya terlihat kurang mensyukuri semua karunia hidup yang didapatnya. Rumah tangga sempurna, anak-anak yang lucu dan karir yang lumayan. Walau menjadi karyawan swasta biasa, tetapi cukup layak bagi dirinya. Saya sempat menanyakan apa yang menjadi kegelisahannya, ternyata Alya merasa belum melakukan apapun menurutnya. “Ni, aku tuh merasa garing, tau, lihat teman-teman bisa pun