FIGHT NEVER ENDING

Lagu Anak-Anak Membentuk Karakter dan Berlatih Kosa Kata

29 Aug 2016 - 18:40 WIB

Lirik lagu Naik Delman di atas adalah lagu yang masih melekat dalam memori saya, ketika ibu dan bapak saya mengajarkan menyanyi. Saya masih ingat, kedua orang tua saya mengajarkan menyanyi di rumah sambil duduk-duduk di teras dan berulang-ulang menyanyi lagu Naik Delman. Moment itu sangat membuat saya kangen sampai sekarang.

Dan lagu tersebut mampu mengembangkan imajinasi saya saat itu, entah usia saya masih berapa tahun saat itu, yang jelas masih di bawah 4 tahun. Imajinasi saya mendengarkan lagu tersebut, membayangkan naik delman bersama Bapak, menyusuri jalan yang di pinggirnya ada pepohonan dan seru mendengarkan tik tak tik tuk suara sepatu kuda.

Dan akhirnya, saya pun nagih-nagih ke Bapak untuk naik delman hahaha. Entah dibayar dengan apa saat itu oleh Bapak, yang jelas jadi jalan-jalan tapi tidak naik delman. Dan keinginan naik delman terwujud setelah diajak ke rumah Nenek yang tinggal di Garut Jawa Barat yang masih banyak delman.

Lain halnya dengan lagu “Bunda Piara” yang bikin seorang anak kecil seperti saya pada masanya, mampu meleleh dan gak mau berbuat menyakiti perasaan orang tua, bukan hanya kedua orang tua saja, namun kakek nenek dan paman bibi yang tinggal bersama saya semasa kecil. Lirik lagu itu membentuk saya menjadi paham akan budi pekerti.

Lagu anak-anak mampu membuat sugesti yang mendorong anak menjadi punya pemikiran yang baik dan membentuk karakter terbawa sampai dewasa. Imajinasinya sangat kuat masuk ke dalam akal pikiran.

Jadi, ada benarnya, jika lagu dewasa pun sebisa mungkin buatlah lirik yang santun dan tidak bermuatan negatif. Karena jika di tempat umum, ada yang setel lagu dewasa, misalnya ada kata Laki-laki buaya darat, selingkuh dan lain-lain, jika ada anak-anak yang mendengar, jika anak tersebut aktif bertanya pasti akan cari tahu apa maksud dari lagu tersebut.

Era 80-90an merupakan surganya lagu anak-anak. Ketika saya kelas lima SD, saya masih ingat, ada tayangan rutin setiap minggu jam 11 siang di TVRI, nama acaranya “Panggung Hiburan Anak-Anak” menampilkan nyanyian-nyanyian ter-update dari penyanyi-penyanyi cilik yang masih saya ingat, seperti Puput Novel, Puput Melati, Shereen Regina Dau, Melisa, Eza Yayang dan masih banyak lagi.

Lagu-lagu yang disuguhkan pun liriknya asyik-asyik, ada “Aku Seorang Jagoan” yang isi liriknya suka makan tahu dipukul sampai hancur, diberi kecap hahaha. Terus Shereen Regina Dau yang menyanyi masak-masak, Eza Yayang dengan pangeran kodoknya dan lain-lain.

Tahun 90an ada “Tralala Trilili” di RCTI, pembawa acaranya Agnes Monica dan Ferry yang sekarang sudah menjadi artis papan atas. Era 90an semakin kaya dan kreatif lagu-lagu anaknya, pakai video klip dan artis-artis ciliknya lebih banyak, ada Joshua Suherman, Trio Kwek Kwek, Chikita Meidi, Reynaldy, Tasha Kamila, Chintia, Tina Toon dan lain-lain.

Beruntung sekali saya lahir di era kaya nya lagu anak-anak. Tidak nunduk terus di gadget atau harus mengernyitkan dahi ketika mendengar lagu-lagu dewasa seliweran di mall, di angkutan umum dll.

Bagaimana dengan anak-anak sekarang supaya bisa mendapat lagi-lagu sesuai usianya tanpa harus ikut-ikutan orang dewasa? Selain mendorong para musisi dan pencipta lagu untuk membuat lagu anak, pihak lain pun perlu diajak agar misi berjalan lancar.

Kemarin siang saya nonton tayangan lunch time di sebuat stasiun tv swasta, membahas tentang lagu anak-anak yang sedang dikampanyekan oleh para mantan penyanyi cilik Dea Ananda (Trio Kwek-Kwek) dan kawan-kawannya. Diskusi bersama pengamat musik Bens Leo.

Menurut Dea, misi #Savelaguanak ini memang harus ada yang memulai supaya tidak terjerembab terus dalam lagu-lagu yang belum saatnya. Bahkan di tengah kesibukan para mantan penyanyi cilik yang tergabung dalam kampanye ini, menyempatkan untuk memberi kontribusi, baik pembuatan lagu, video klip, dan penyebarannya di sosial media.

Bens Leo sebagai pengamat musik pun mendukung aksi Dea dan kawan-kawannya. Bahkan Bens menyarankan kementerian pariwisata ikut andil besar dalam misi ini. Karena sektor pariwisata lebih tepat sasaran untuk memasukkan unsur-unsur lagu anak-anak dalam setiap programnya.

Saya pun mendukungnya, tanpa ada yang mengajak atau menyuruh karena menyangkut masa depan anak bangsa. Jika lagu anak berkualitas dan memberi banyak sugesti positif yang akan terekam sampai dewasa nanti, itu akan lebih baik. Setidaknya bisa meminimalisir hal-hal yang kurang bermanfaat.

Lagu anak-anak berbahasa Indonesia juga bisa melatih anak untuk punya kosa kata yang banyak dan berlatih memahami maksud dari liriknya.

Tips dari saya sebelum ada lagi lagu-lagu anak yang baru:

  • Bagi yang punya anak, biasakan ajarkan dan dengarka  anak dengan lagu-lagu anak zaman dulu yang telah ada.
  • Lagu rohani agama masing-masing menjadi salah satu alternatif juga
  • Story telling dengan tema-tema lagu anak yang ada
  • Perkenalkan artis-artis cilik yang pernah tenar atau yang baru
  • Jadi, kapan lagi kita ikut kontribusi untuk menyelamatkan lagu anak-anak kalau tidak dari sekarang? Sebelum terlambat, mari bergerak untuk anak-anak Indonesia.


TAGS   save lagu anak /