FIGHT NEVER ENDING

Saat Istimewa Bersama Gerhana Matahari Total

19 Feb 2016 - 16:54 WIB

Gerhana Matahari Total dan Saya

Masih terekam jelas saat itu Tahun 1983, setahun sebelum masuk sekolah. Bulan dan tanggalnya lupa. Saya tinggal di rumah Opung (Sebutan nenek atau kakek untuk orang Batak) maka di rumahnya selalu ramai karena ada paman, bibi dan sepupu-sepupu. Saat itu di rumah sibuk terlihat di dapur semua perempuan sibuk menyiapkan masakan dan membuat kue, kami disuruh bermain saja. Setelah maghrib terdengar suara takbiran dari masjid. Seperti lebaran! Saya dan sepupu-sepupu teriak “Lebarannnn….! Kami memperkuat kalau besoknya adalah lebaran karena di dapur pun sibuk ditambah suara takbiran hahaha.

Ternyata bukan, Opung mengumpulkan kami di malam itu, memberi tahu bahwa besok pagi ada Gerhana Matahari Total dan semuanya di larang ke luar dulu sampai gerhana matahari selesai. Lalu kami sebagai anak-anak bertanya penasaran ke orang tua masing-masing kenapa ada gerhana matahari total ada takbiran seperti lebaran dan kenapa tadi para ibu sibuk masak dan apa sih gerhana matahari total itu? Para orang tua sibuk menjelaskan dengan pengetahuan terbatas mereka dengan bahasa yang mudah kami pahami saat itu. Opung pun menjadi juru bicara untuk pertanyaan para cucunya. Ternyata sibuk menyiapkan makanan agar esok hari pas terjadi gerhana matahari total, tak ada yang ke luar sibuk cari makanan atau jajan. Terus semua yang kerja juga harus izin cuti jadi gak bisa ke luar rumah. Makanya stok makanan harus cukup untuk semua anggota keluarga dalam satu rumah. Masuk akal kan?

Kami tak boleh ke luar rumah saat terjadi gerhana matahari total karena sinar matahari sebelum dan sesudah gerhana matahari total bisa menyebabkan kebutaan kalau lihatnya dengan mata telanjang. Begitu penjelasan Opung saat itu. Masing terngiang.

Terus soal takbiran, menurut Opung saya, itu sebagai ungkapan kekaguman terhadap kebesaran Allah SWT atas terjadinya fenomena alam gerhana matahari total tersebut.

Semakin besar, semakin dewasa saya jarang melewatkan moment seperti di tahun 1983 tersebut, selain keluarga sudah berpencar tempat tinggalnya juga sebagian merantau jadi kami tak sempat menikmati Gerhana Matahari Total bersama keluarha lagi. Opung saya pun sudah meninggal dua-duanya.

Tahun 2016 tepatnya 9 Maret, Gerhana Matahari Total akan terjadi lagi dan melewati beberapa bagian di wilayah Indonesia, diantaranya Palembang, Bangka, Belitung, Sampit, Palangkaraya, Balikpapan, Palu, Poso, Luwuk, Ternate dan Halmahera. Pasti sangat istimewa karena kejadiannya berjeda cukup lama sehingga tak semua orang bisa melewatkan kejadian istimewa ini. Walau tak dilewati Gerhana Matahari Total, saya yang tinggal di Pulau Jawa, tetap cari tahu apa sih gerhana matahari total itu? Sebab pertanyaan saya saat kecil belum terjawab tuntas.

Gerhana Matahari Total Menurut Astronom ITB, Ferry M Simatupang

Bersyukur banyak sekali sumber yang menjawab rasa penasaran saya tentang fenomena gerhana matahari total ini. Dari media online seperti Blogdetik, media cetak, majalah dan workshop. Dalam sebuah workshop yang saya ikuti, dengan narasumber Ferry M Simatupang, Astronom dari ITB, menurutnya Gerhana Matahari Total terjadi pada tiga obyek Bulan, Matahari dan Bumi. Bulan sewaktu-waktu dapat lebih besar 7% dari besar matahari. Saat terjadinya GMT, bulan sepenuhnya menutupi matahari selama beberapa saat. Biasanya suasana saat GMT seperti senja menjelang malam.

Periodisitas Gerhana Matahari Total disebut Seri Saros, berasal dari Bahasa Babilonia dan pengamatan terhadap gerhana ini sudah terjadi sejak zaman Babilonia.

Seri Saros ini berkaitan dengan ukuran interval berikut ini :

Bulan Sinodis (Synodic Month)

Bulan Drakonis (Draconyc Moths)

Bulan Anomalistis (Anomalictic)

Konfigurasi yang mirip akan terulang 18 tahun 10 Hari 1/3 hari setiap 3 kali seri saros (59 tahun 31 hari)

Macam-macam gerhana matahari yang tak harus dilihat dari lokasi tertentu, diantaranya Gerhana Matahari Total, Gerhana Matahari Cincin, Gerhana Matahari Cincin-Total (Hybrid), Gerhana Matahari Sebagian (Tidak dapat diamati)

Cara mengamati gerhana matahari secara aman dijabarkan Ferry, bahwa mengamati gerhana secara aman, seharusnya menggunakan pelindung mata sebagai berikut; Kamera lubang jarum, Proyeksi dengan teleskop dan menggunakan kacamata gerhana. Jadi jangan sekali-kali melihat gerhana matahari dengan mata telanjang, kecuali jika sudah tertutup total oleh bulan. Jaga-jaga lebih baik ya?

Tips Memotret Gerhana Matahari Total

Dalam sebuah workshop khusus bersama Arbain Rambey, dibahas cara memotret GMT yang tepat. Ini dia tips nya :

   1. Pelajari tempat yang akan dilalui GMT, baik waktu maupun cuacanya.

   2. Siapkan perlengkapan seperti Kamera dengan Lensa 400 sampai 600 milimeter

   3. Filter Tingkat tinggi ND400

   4. Tripod, diperlukan supaya tak banyak goyangan. Tapi untuk memotret yang lebih tinggi sebaiknya tak menggunakan Tripod.

   5.  Siapkan ketenangan diri.

Menurut Arbain, memotret GMT diperlukan tehnik yang cepat dan kreatif. Misalnya, saat matahari masih terbuka akan menimbulkan kerusakan kamera, maka dari itu saat tak memotret sebaiknya ditutup lensanya. Sedangkan saat kontak ke dua dan ke tiga, ND400 harus segera dilepas dan diganti ISO nya dengan ISO tinggi.

Obyek-obyek yang bisa dilihat dan difoto saat Gerhana Matahari Total yang menarik menjadi obyek pemotretan saat GMT. Misalnya : Piringan matahari, Korona dan lubang korona saat fase total, Baily Beads, Diamond Ring, Planet dan Bintang, Perubahan lingkungan, langit, awan, temperatur udara, kecepatan angin, perilaku binatang dan tumbuhan dan proyeksi gerhana di bawah pohon.

Moment istimewa GMT memang pantang dilewatkan. Walau banyak mitos dan cerita-cerita dibaliknya, kita pun wajib mempelajarinya dengan seksama sebagai wawasan dan bahan cerita bagi anak cucu kelak.

 

 


TAGS   Laskar Gerhana detikcom /