FIGHT NEVER ENDING

Pemandangan Indah Kuliner Bergizi di Danau Tondano dan Bukit Rurukan

24 Nov 2016 - 05:33 WIB

Rangkaian Jelajah Gizi Minahasa tak cukup dituliskan dalam satu atau dua artikel, saya akan membuat beberapa sekuel. Yang pertama saya tuliskan adalah hasil penjelajahan di hari pertama tiba di Minahasa.

Makanan yang disantap di Restoran Tumou Tou di pinggir Danau Tondano yang tenang dan asri. Kami makan siang sambil membedah gizi setiap lauk yang terhidang dengan penjelasan dari Profesor Ahmad Sulaiman.

Menikmati kuliner khas daerah jika di tempatnya langsung, memang lebih nikmat dan terasa keasliannya. Di sana bisa mengetahui juga kearifan lokal dan budaya cara mengolahnya sehingga muncul ke-khas-an cita rasanya yang tak dapat disamakan dengan makanan daerah lain walaupun bahan dasarnya sama.

Perkedel NIKE

Saat saya menulis artikel Perkedel Nike, kesulitan sekali menemukan Ikan Nike di Jakarta. Saya tidak mau memakai foto-foto yang ada di google, ternyata Ikan Nike hanya terdapat di perairan Gorontalo dan Minahasa. Itu pun musiman, hanya bisa dipanen sebulan sekali. Menurut Prof. Ahmad Sulaiman, Ikan Nike sifatnya seperti Ikan Salmon, saat mau bertelur, bergerombol ke muara sungai dalam kelompok besar. Bentuknya kecil-kecil seperti Teri tapi Ikan Nike lebih kecil lagi.

Penganan dari Ikan Nike, dibuat perkedel, pepes atau dioseng. Kandungan gizinya mengandung protein dan tinggi kalsium.

Sate Kolombi

Jangan membayangkan sepeti sate ayam, saat dihidangkan makanan ini, nyaris histeris saya. Ini adalah makanan favorit saya, kalau di Jakarta, saya sering menemukan di pasar. Namanya Tutut tapi di Minahasa namanya Kolombi. Siput Danau ini, bentuknya lebih besar dari Tutut yang sering saya temui. Rasanya juga lebih gurih renyah. Apa lagi dihidangkan dengan bumbu kuning pedas. Khas banget Minahasa.

Kolombi ini, menurut Prof. Ahmad Sulaiman, mengandung Asam Esensial, Vitamin E, Tinggi protein, sumber kalsium, mengandung Omega 3 dan 6 serta pengendali kolesterol. Kolombi banyak sekali di Danau Tondano dan menjadi sumber protein hewani bagi warga Minahasa.

Saya sampai menghabiskan dua piring sate kolombi. Enak tiada tara, sampai lupa diri saat makan hehehe.

Dabu-Dabu

Dabu-Dabu sering saya temukan, sambal khas Minahasa ini jika melihat bahan-bahannya, mudah ditemukan dan sangat simpel membuatnya. Tapi anehnya, jika membuat sendiri, tidak berasa Dabu-Dabu. Tapi, saat saya makan Dabu-Dabu di tempat aslinya, seperti dapat makanan spesial. Campuran potongan dadu cabe merah, rawit, bawang merah dan tomat segar ini dihidangkan dengan campuran kecap yang tak terlalu banyak. Segar dan penetral hidangan lain yang penuh bumbu rempah.

Ciri khas Dabu-Dabu, banyak tomatnya. Enak disantap dengan ikan bakar dan pendamping lauk lainnya.

Ikan Mujair

Mujair goreng yang dihidangkan di Tumou Tou ini, terasa renyah dan gurih. Didapat dari Danau Tondano yang ditangkap segar. Dihidangkan dengan sambal Dabu-Dabu lezatnya bikin selalu nambah lagi. Apa lagi makan di pinggir danau yang sejuk.

Di Tumou Tou, kami tak hanya makan, tapi mendapat asupan ilmu dari Marrysa Tunjung Sari tentang cara memotret yang baik dan materi vlogging dari Sutiknyo yang akrab dipanggil Mas Bolang.

                                                                        Kolembeng Merah

Lemet Bulu

                                                                                  Lemet Bulu

Kenyang dan puas di Tumou Tou, kami menuju rumah Pak Camat daerah Lembean Timur. Ibu Camat dan Ibu Ema memperagakan cara membuat Nasi Jaha, Lemet Bulu, Bobengka, Kolembeng Merah, Apang Merah dan Klappertart. (Makanan-makanan ini beserta cara membuatnya akan saya tulis tersendiri dalam satu artikel)

Senang bersilaturahim di rumah Pak Camat sambil menyantap kue-kue khas Minahasa dengan semilir angin sejuk di halaman rumahnya yang dikelilingi pegunungan dan terdengar gemericik air.

Hari sudah petang, kami bergegas ke Rurukan. Desa Agrowisata, tempat budidaya sayur dan bunga. Masih ingat dengan Festival Bunga Tomohon yang mendunia, ternyata ini sumbernya. Kami menikmati sejuknya petang di Bukit Temboan sambil menikmati pemandangan yang menghampar luas dengan kebun sayur dan bunga.

                                                        Pisang Goroho dan Sambal Bakasang

                                                                          Bukit Rurukan

Dinginnya Bukit, dihangatkan teh manis dan camilan Pisang Goroho dicocol Sambal Bakasang dan Sambal Roa. Unik sekali, kalau biasanya saya menyantap pisang dibalut tepung terigu dan gula, ini dicocol sambal. Ternyata memang Pisang Goroho ini terbuat dari pisang yang tidak matang dan tak bisa matang. Makanya dibuat penganan asin bahkan sebagai pendamping lauk. Lidah saya mudah menyesuaikan diri, jadi makan apa pun walau ada perubahan cara menghidangkannya, buat saya tetap enak.

Oh ya, sambal pendamping Pisang Goroho adalah Sambal Bakasang, dalam bahan dasarnya ada telur ikannya yang berbentuk butiran. Jadi, menyantap Pisang Goroho cocol Sambal Bakasang, kita memperoleh protein dan vitamin yang cukup tinggi. Pisang Goroho pas banget disantap pengidap Diabetes karena rasanya yang tawar.

Pulang dari Bukit Rurukan, kami menutup rangkaian hari pertama Jelajah Gizi dengan Dinner di Restoran Green Garden.


TAGS   Jelajah Gizi Minahasa / danau tondano / bukit rurukan / Tomohon / Gorontalo / Lemet Bulu / Sambal Bakasang / Ikan Nike / Pisang Goroho / Dabu Dabu /