FIGHT NEVER ENDING

Komitmen Untuk Menjadi Freelancer

6 Jul 2015 - 18:54 WIB

Photo By : pixabay.com

Photo By : pixabay.com

Photo By : Pixabay.com

“Enak mana menjadi pekerja tetap atau freelancer?” Begitu pertanyaan yang sering terlontar. Menurut saya sama saja, bedanya hanya pada soal penggunaan waktu saja. Dan menjadi freelancer sebelumnya pasti punya story yang melatarbelakangi, seperti saya.

Hobi yang sudah melekat sedari kecil itu bagaikan soulmate, mengalahkan profesi dari hasil pendidikan formal. Saya dulu kuliah mengambil jurusan Akuntansi karena dorongan orangtua, tapi saya tak menyesal. Karena dengan masuk Akuntansi, saya bisa merasakan kerja kantoran di berbagai perusahaan, mulai dari perusahaan jasa, perusahaan dagang dan PerusahaanAirline. Dari sana, saya belajar banyak meng-handle orang dan berbagai item job description alhamdulillah hasil pendidikan bisa tersalurkan selama kurun 2000-2013. Menjadi Akunting.

Hobi membaca dan menulis tetap mendominasi, sampai akhirnya saya membuat blog pribadi, tak ada pikiran bisa sampai mendapatkan pencapaian seperti sekarang. Karena saya menulis blog bertujuan hanya untuk menyalurkan hobi dan ingin banyak teman satu minat. Setelah kopi darat dengan beberapa blogger, saya menemukan banyak informasi bermanfaat dan banyak belajar dari teman-teman blogger yang sudah berpengalaman.

Proses mengais ilmu saya jalani, ada pengorbanan waktu, materi dan energi. Saya tak cukup belajar online, proses pencarian ilmu dari satu workshop ke workshop sampai tempat yang jauh sekalipun saya ikuti. Cucuran keringat ikut menjadi saksi kala naik turun metromini, menghadapi kemacetan jalan dan jarak dari jalan raya ke tempat acara lumayan jauh harus ditempuh dengan berjalan kaki lagi. Karena saya belum mampu mengalokasikan anggaran untuk membayar taksi atau ojeg untuk hadir di acara blogger. Kecuali jika sangat urgent.

Pulang dari acara-acara, saya menjadwalkan menulis langsung liputannya, karena takut lupa dan takut keburu malas. Walau Blogger tak ada editorial dan tak ada pengawas, saya membiasakan diri untuk update langsung sebagai pertanggungjawaban dan etika setelah menghadiri undangan. Saya berkomitmen menjadi blogger bertanggungjawab dan harus ada feedback nyata bagi pengundang. Agar tak mengecewakan juga tak dianggap blogger tidak konsisten.

Proporsi menulis blog lebih besar dari pekerjaan di kantor , kadang saya bolos kerja demi hadir di suatu acara blogger. Merasa tidak enak dan merasa harus fokus di satu prioritas, saya memberanikan diri untuk resign dan saya menjadi pekerja freelancer sejak akhir 2012.

Tetapi keputusan saya untuk resign bukan keputusan instant atau spontan. Ada yang saya persiapkan sebelumnya.

Berikut tips dari saya sebelum memutuskan untuk resign dari kantor atau pekerjaan tetap lainnya :

  • Tempa skill yang dimiliki, misalnya menulis, design , menari, akting, dagang, mengelola event organizer, teknisi dan lain-lain.
  • Perbanyak relasi dengan mengenal banyak orang baru, siapa tahu kesempatan dan peluang datang dari mereka. Ciptakan pertemanan yang natural, tidak dititikberatkan pada Ada maunya jadi, ada atau tidak ada peluang dari siapapun, kita harus tetap berbuat baik dan hangat.
  • Berteman baik dengan Brand atau agency pengundang acara-acara.
  • Untuk Blogger, sebaiknya ringan tangan saat ada yang meminta tolong mengelola acara atau mengisi konten non komersil.
  • Aktif di komunitas-komunitas yang diminati sesuai skill atau hobi.
  • Rajin mencari informasi terbaru tentang apapun.
  • Siapkan Proyek pertama untuk bulan pertama setelah resign.
  • Buat rencana kerja jangka pendek dan jangka panjang.
  • Siapkan mental juga ketika orang lain dapat THR dari perusahaannya tempat bekerja, sementara kita cuma dapat THR dari hasil pencarian sendiri hehehe….

Pengalaman saya, enam bulan menjelang resign saya sudah menyiapkan portal khusus perempuan yang dikelola bersama empat orang teman Blogger, dari sana menghasilkan beberapa event online dan event offline dan alhamdulillah proyek-proyek lainnya menyusul.

Tips yang lainnya adalah, perbanyak jemput bola dalam mendapatkan peluang, mendekati pihak-pihak tertentu bukan sekadar tebar pesona dan cari muka, tapi lakukan pendekatan dengan karya dan attitude. Artinya, usahakan kita dapat memberikan kontribusi bagi pihak yang diajak kerjasama. Harus memberi output sesuai ekspektasi dan bisa saling melakukan simbiosis mutualisma dengan baik. Jadi, jika ada skill yang punya nilai jual, tidak salah jemput bola melalui proposal atau melalui obrolan ngopi-ngopi.

Intinya, jika kita sudah berani menawarkan nilai jual skill yang dipunyai, otomatis kita pun harus bisa lebih meningkatkan kemampuan. Caranya terus menimba ilmu dari berbagai sumber, belajar tiada henti dan banyak ngobrol dengan orang-orang berpengalaman dan punya kompetensi. Hindari teman-teman yang memancarkan energi negatif yang akan menyurutkan semangat. Berteman dengan yang mampu memacu semangat dan mau memberi masukan membangun secara jujur.

Jika sudah menjadi freelancer, terapkan hal-hal berikut :

  • Manage waktu jam kerja seperti kerja kantoran, jadi gak mentang-mentang jadi freelancer lantas bisa bangun tidur seenaknya, karena waktu adalah peluang.
  • Pisahkan uang pemasukan dari job-job yang masuk dan uang untuk keperluan pribadi.
  • Lakukan sistem gaji walau untuk diri sendiri.
  • Tabungan cadangan harus tersedia, setidaknya dari setiap pemasukan job, sisihkan 20% untuk biaya cadangan di tabungan terpisah.
  • Jika ada biaya kebutuhan rutin yang mampu dibayar untuk waktu enam bulanan atau setahun, bayarkan saja. Misalnya, SPP anak, Asuransi, biaya les dan lain sebagainya.
  • Buat pos-pos pengeluaran dengan lebih bijak.
  • Kerja keras lebih ditingkatkan.
  • Buat PSR (Personal Social Responsibility) dengan menyisihkan penghasilan untuk amal. Atau buat pelatihan / workshop gratis bagi yang membutuhkan. Karena kalau kita kerja di perusahaan ada CSR (Corporate Social Responsibility) nah kalau Freelancer ya PSR, tujuannya biar usaha dan rezeki kita jadi berkah.

Jika sudah mantap putuskan keputusan besar ini tetapi jika belum mantap, sebaiknya persiapkan secara matang. Harus tekad bulat sesuai motivasi diri, bukan karena pengaruh orang lain. Tetapi pada dasarnya, bekerja tetap atau freelancer sama saja, tergantung kita menyikapinya, semuanya adalah pilihan dan keputusan harus diambil atas motivasi diri.


TAGS   freelancer /