FIGHT NEVER ENDING

Profesional atau tidak, yang penting bermanfaat

8 Jun 2015 - 00:17 WIB

Blogger_Profesional_VS_Blogger_Amatir

Seminggu yang lalu, saya membaca pengantar redaksi dari sebuah majalah perempuan terkemuka. Di sana, sang pemimpin redaksi menyatakan bahwa labelling yang telanjur melekat pada blogger pemula sulit dibenarkan karena blogger profesional menjadi kalah pamor. Di satu sisi, pemimpin redaksi ini memacu semangat para blogger pemula untuk konsisten update dan lebih mempertajam skill agar blogger bertanggung jawab atas pilihannya. Di satu sisi, tak sedikit blogger yang merasa dipatahkan semangatnya. Karena dalam kapasitasnya sebagai blogger pemula,divonis sebagai wannabe tak bertanggung jawab. Padahal bukan tak bertanggung jawab membuat labelling sebagai blogger, namun pemula sedang melakukan tahapan-tahapan dan proses menuju profesional. Salahkah penulis blog pemula, disebut blogger? Untuk mencari jawaban, mari kita runut apa sebenarnya kiprah yang dilakukan blogger.

Jangan dilupakan bahwa peran Citizen Journalism amatir pun sangat membantu menampung aspirasi masyarakat. Apa yang dituangkannya, walau tak se-profesional penulis standar media, penulis blog amatir berhasil mengangkat banyak berita yang luput dari pemberitaan media mainstream. Seperti yang dilansir dalam Readers Digest Indonesia Edisi Juni 2015, Halaman 163 yang mengulas tentang gaya hidup. Di sana dipaparkan keluhan-keluhan cerdas masyarakat yang disampaikan melalui media blog, twitter dan sosial media lainnya, dapat menyentil pemerintah untuk melakukan perubahan. Maka media mainstrean pun ramai-ramai menyediakan wadah bagi para Citizen Journalism misalnya, detik.com membuka kanal Pasang Mata, Kompasiana membuat aplikasi K Report di gadget dan masih banyak lagi.

Saya ingin mencerna lebih dalam lagi, tulisan pengantar redaksi di majalah perempuan terkemuka tersebut. Saya setuju dengan apa yang diungkapkannya. Bahwa labelling blogger yang dilekatkan pada diri, atau dilekatkan oleh orang lain. Otomatis harus sudah punya komitmen untuk menjalankannya, salah satunya update rutin tulisan-tulisan bermanfaat. Konsistensi tak cukup dengan update tulisan saja. Ada hal-hal yang perlu dilakukan, diantaranya :

  • Update bisa seminggu sekali atau dua kali tergantung kesanggupan masing-masing blogger. Sebaiknya, jeda jangan terlalu lama.
  • Bisa menggali isu-isu terkini dan menuliskan hal-hal informatif.
  • Jika ingin curhat di blog, bebas saja. Blog itu kan personal, milik pribadi. Tetapi sebaiknya olah kembali curhat yang akan ditulis di blog menjadi layak konsumsi umum. Misalnya, sisipkan pesan moral, tidak mendiskreditkan pihak lain dan lakukan pendekatan dengan isu yang ada hubungannya. Bahasa boleh santai, setengah serius atau serius. Yang penting sesuai gaya blogger itu sendiri.
  • Ikut pelatihan-pelatihan menulis, gratisan atau berbayar, sesuai kemampuan dan kondisi .
  • Banyak bertanya dan ngobrol dengan blogger lain atau siapapun agar mendapat banyak inspirasi untuk menulis.
  • Banyak membaca.
  • Banyak berteman, blogwalking, interaksi sosial media.
  • Percaya diri menyebarkan karya, kalau disebarkan akan bermanfaat buat banyak orang dan bisa diketahui kiprahnya, jadi gak akan ada anggapan blogger wannabe yang tak ingin berproses.
  • Ikut lomba-lomba, urusan menang atau kalah nomor duakan saja, yang penting nama kita ada di database penyelenggara dan karya kita tersebar. Kalau menang ya alhamdulillah.
  • Sesekali kirim artikel ke media mainstream, sebagai penguji kualitas dan upaya branding.
  • Jika sudah mantap mendapatkan skill, jangan dipendam sendiri ilmu yang didapat, bagikan kembali kepada yang membutuhkan, untuk belajar, bisa mengajar di sekolah-sekolah tak mampu, rumah singgah anak jalanan, panti asuhan atau kepada siapapun. Awali dengan sukarela.
  • Memelihara komitmen.
  • Menjadi diri sendiri.

Intinya, berikan kontribusi nyata untuk dunia blog, dengan cara melakukan kegiatan blogging satu paket seperti update, blogwalking, menangkap isu terkini, beropini dan lain-lain. Serta memberdayakan diri tanpa henti. Jika hal ini sudah dilakukan dengan konsisten, otomatis komitmen akan terbangun dan rasa tanggung jawab dan dilakukan tanpa beban.

Bagi pemula, tak perlu minder karena apa yang dituangkan, ukuran bagus atau tidaknya tulisan tak menjadi barometer utama, jika tulisan biasa-biasa saja, tapi isinya informatif dan punya banyak pesan moral, siapapun akan tertarik. Jika ingin mengasah lagi kemampuan, itu lebih baik tentunya. Tak perlu dipusingkan dengan apa kata orang tapi tak boleh anti kritik juga.

Kritikan akan menjadi sarana pembelajaran, introspeksi dan evaluasi karya agar semakin lebih baik, harus bersyukur jika ada yang kritik, artinya karya kita diperhatikan dan pembaca memang memerlukan karya tersebut. Kelemahan harus diakui, jangan ditutupi. Kelemahan adalah sebuah kekuatan jika kita dapat mengolahnya menjadi solusi.

Untuk mencapai apa yang diinginkan memang perlu perjuangan tanpa henti, tanpa bosan dan harus tahan banting. Danhal-hal tersebut merupakan bagian dari proses.

Saya pribadi, baru 7 tahun menulis blog dan belum banyak yang dicapai, bahkan untuk disebut sebagai Blogger Profesional sesuai definisi pemimpin redaksi majalah perempuan tadi, masih sangat jauh. Tetapi pencapaian tak seberapa yang saya dapat selama ini, saya syukuri dan ada kepuasan tersendiri, tak hanya untuk diri sendiri, ketika saya dapat membagikannya lagi, itu merupakan klimaks pencapaian saya. Karena tak ada ilmu yang bermanfaat jika tak dibagikan kembali. Justru dengan dibagikan kembali, ilmu akan selalu ter-upgrade. Masalah labelling sebagai blogger pun awalnya tak berharap sekali karena di awal niatnya memang sebagai pengisi waktu dan menyalurkan hobi. Kerja keras yang konsisten bahkan perjuangan mengelola waktu, materi dan energi lah yang kemudian mendatangkan keberkahan untuk saya dari hasil menulis blog. Tak menyangka saya akan mendapatkan pengakuan karya dari brand, institusi pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat taraf internasional. Bukan bermaksud riya atau riya berkedok amal. Tetapi apa yang saya tuliskan adalah benar-benar apa yang saya alami. Saya berharap dapat menjadi pemacu bagi teman-teman. Karena jika kita memupuk pasti suatu saat akan memetik. Tak ada yang sia-sia.

Saya pun melihat dinamika perkembangan dunia blogging sekarang, teman-teman blogger yang saya kenal selama ini, di komunitas detik blogger, Blogger Reporter, Emak2Blogger, Blogger Perempuan, Kompasiana dan lain-lain, saya lihat masing-masing punya tanggung jawab. Saya lihat teman-teman blogger semangat belajar, semangat menghadiri pelatihan dan berusaha juga ikut pasrtisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang ada hubungannya dengan dunia menulis. Saya yakin, itu adalah sebuah proses. Dan jangan takut atau ragu untuk menjalani proses. Karena proses akan menguatkan pondasi karya.

Pada akhirnya, semua berpulang kepada niat masing-masing. Jika tujuan menulis blog sekadar pengisi waktu dan tak ada tujuan ke arah profesional, silakan. Tetapi jika ingin diakui oleh publik, diakui posisi tawarnya secara finansial dan melekat labelling sebagai blogger profesional, sebaiknya diusahakan menjalani proses tadi secara konsisten. Karena ini adalah bagian dari tanggung jawab terhadap pilihan kita.

Apa yang kita lakukan selagi bermanfaat untuk diri sediri dan orang lain, lakukan saja. Tak perlu mempersoalkan pengakuan atau embel-embel dari orang lain.


TAGS   Blog / amatir / profesional / citizen journalism /