FIGHT NEVER ENDING

Benarkah Membahas Hukum Itu Rumit ?

29 Apr 2015 - 09:38 WIB

Gambar : www.hukumpedia.com

Gambar : www.hukumpedia.com

Produk hukum di Indonesia saat ini, birokrasinya terkesan berbelit dan bisa dibeli itu kenyataan! Klasik? Iya banget. Apa buktinya? Setiap orang yang berada di lingkungan saya dan kena musibah, rata-rata mereka malas memproses secara hukum. Alasannya, berbelit dan malah nombok, barang atau sesuatu yang hilang malah nilai nya lebih besar untuk biaya proses hukum. Sementara yang berduit bisa semulus jalan tol berselancar memainkannya, demi kepentingan sendiri.

Contoh kasus terdekat. Teman saya, Tiwi (Nama disamarkan) mempunyai kasus kekerasan dalam rumah tangga, dia sudah melaporkan hal ini ke kantor polisi terdekat. Tetapi di sana bukannya dilayani, malah dianjurkan untuk melapor ke bagian khusus yang tempatnya tak diinformasikan dengan khusus. Untung saja, Tiwi perempuan modern dan berwawasan, jadi bisa cari tahu sendiri ke mana harus mengadukan kasus nya. Dengan browsing melalui internet dan Tiwi meminta perlindungan ke sebuah lembaga perlingdungan perempuan dan anak. Solusi sedikit terpecahkan, dia mendapat konsultasi rutin namun posisinya masih belum aman karena suaminya masih meneror.

Satu lagi, saya menemui kasus anak yang diperlakukan dengan sewenang-wenang oleh orangtua kandungnya sendiri. Ketika saya ke Bandung, di dalam angkutan travel saya berbincang dengan perempuan sebaya saya, namanya Neni (Nama disamarkan). Neni adalah tante dari keponakan yang malang itu. Dia bercerita, Neni kerap bolak balik Bandung-Jakarta untuk menengok keponakannya. Karena ibunya mengalami gangguan jiwa dan kerap menyakiti anak kandungnya, hampir membunuh juga. Suami si ibu ini tak mau mengirim istrinya ke Rumah Sakit Jiwa. Karena dipikirnya, gangguan jiwa itu hanya datang sesekali. Dan anaknya aman bersama bapaknya. Padahal, di rumah tersebut, si anak yang masih berusia 5 tahun tersebut tak selalu ada di samping bapaknya. Si Bapak kan kerja. Walau ada pengasuh yang menjaganya. Tetap bahaya kalau ibunya kambuh.

Neni berusaha ingin memecahkan masalah kakaknya. Tapi suami kakaknya bersikeras itu adalah hak dan tanggungjawabnya. Ngeri sekali lihat kekerasan hati suami kakaknya Neni ini. Mentang-mentang suaminya, bisa berlaku seenaknya tanpa memikirkan kesembuhan istri dan keselamatan anaknya.

Melihat dua kasus di atas. Untuk Tiwi yang terkesan dilempar-lempar, merasa tidak punya arah jelas untuk mengadu. Tiwi bahkan sempat diberitahu oleh kepolisian, bahwa kasusnya bukan urusan polisi polisi hanya menangani kasus kriminalnya saja, seperti jika Tiwi diaskiti atau kekerasan fisik dan ancaman baru bisa ditangani di sana. Ya, memang benar, urusan kasus kekerasan rumah tangga dan tektek bengeknya memang bukan jatahnya buat diurusin polisi secara langsung. Tetapi, setidaknya ada lah, sikap mengayomi. Dengan tetap memberi pelayanan, sehingga Tiwi merasa punya pengakuan perlindungan pertama. Setelah itu, sebaiknya pihak kepolisisan punya data dan informasi yang bisa diberikan ke pengadu untuk mengarahkan ke mana harus melakukan pengaduan itu. Kalau yang mengadu bukan Tiwi? Yang tak mengerti soal teknologi, internet dan lain sebagainya. Mau ke mana dia akan cari tahu ?

Jadi intinya, walaupun pihak kepolisisan tak menangani beberapa kasus yang bukan tugasnya, setidaknya polisi menjadi pihak yang bisa memberikan perlindungan pertama dan memberikan informasi detail agar pengadu dalam kasus apapun mendapat pelayanan bisa dijadikan pegangan bahwa dirinya sudah terlindungi walau kasusnya belum beres.

Untuk kasus yang dihadapi Neni, payung hukum pastinya menyerahkan semua keputusan terhadap kepala keluarga. Dan Kepala keluarga diberi hak perogrative untuk bersikap. Tetapi, jika menyudutkan salah satu pihak, misalnya membuat kakak Neni sakit jiwa berkepanjangan karena tak diobati secara intensif dan anaknya terancam bahaya, apa ini patut dibiarkan?

Saya, yang bukan orang hukum serta tak mengerti hukum, harus selalu update dengan menggali banyak informasi. Belajar memahami hukum dari sisi humanisme, yang tak melulu soal aturan atau soal pasal, saya dapatkan di hukumpedia. Dari sana, saya bisa memahami alur hukum yang hakiki. Bahwa proses hukum bisa diciptakan sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Seperti yang dikatakan oleh Anggara Suwahju, seorang praktisi hukum , menurutnya, aktivitas hukum tak selalu berada dalam lingkup pengadilan. Dalam lingkungan dan kehidupan sehari-hari bisa diterapkan.

“Hukum dapat mempertahankan hak dan bisa dilakukan sendiri, selagi dapat diterima dan dipertanggungjawabkan. Bahkan proses hukum yang diciptakan dapat memengaruhi orang di sekitarnya untuk sama-sama sadar hukum.” Kata Anggara.

Menarik sekali menyelami berbagai opini dan berita hukum di hukumpedia, di artikel terpisah akan saya ulas lebih dalam.


TAGS   hukumpedia /