Hak Yang Terlupakan

Pada Hari Rabu, Tanggal 9 Mei 2012 saya dan beberapa teman Blogger menyaksikan acara Kick Andy Live di studio Metro Tv, kali ini mengangkat tema yangsama sekali tadinya tak terpikirkan, yaitu mengangkat orang-orang yang telah berkarya dengan sebuah pengakuan dan apresiasi.

Bapak Eden Arifin bersama Lukisan Sultan Mahmud Badarudin II

Bapak Eden Arifin bersama Lukisan Sultan Mahmud Badarudin II

Lukisan Pak Eden ada dalam uang pecahan 10ribuan ini, Foto By : abcdanisa

Lukisan Pak Eden ada dalam uang pecahan 10ribuan ini, Foto By : abcdanisa

Narasumber pertama yaitu Bapak Eden Arifin dari Palembang, beliau adalah seorang pelukis, karyanya sudah banyak diakui didaerah asalnya juga menjadi sumber mata pencahariannya. Kemampuannya sudah tak diragukan lagi melihat dari hasil karyanya yang berkualitas.

Bahkan Pak Eden mampu melukis seorang Sultan Mahmud Badaruddin ke 2 dari Era pemerintahan Palembang-Darussalam tanpa melihat dari media lain, hanya dari sebuah imajinasinya sendiri dan pengetahuannya mengenai Sultan ini.

Sampai pada akhirnya ada peluncuran uang kertas pecahan 10 Ribu Rupiah yang menampilkan gambar lukisan Sultan Badaruddin ke 2 tersebut yang dibuat oleh Pak Eden. Namun Pak Eden tak menerima royalty hak cipta dari Bank Indonesia, sampai akhirnya Pak Eden dan keluarga berusaha menuntut BI untuk mendapatkan haknya karena lukisannya dipakai sebagai ilustrasi uang pecahan 10 ribuan tersebut. Sampai kini masih belum ada titik terang untuk Pak Eden terkait kasus ini, pengakuan hak cipta terhadap lukisan ini masih belum didapatkan. Sungguh miris, padahal bukti sudah terkumpul.

Siapa yang tak kenal dengan sepenggal lirik lagu ini ” Terpujilah wahai engkau, ibu bapak guru….namamu akan selalu hidup dalam sanubariku….

Bapak Sartono dan Isteri, pencipta Lagu Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Bapak Sartono dan Isteri, pencipta Lagu Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Narasumber kedua, yaitu Bapak Sartono pencipta lagu Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang kini menjadi lagu Wajib Nasional, Pak Sartono dan istri adalah guru dan kehidupannya sederhana namun semangat berkaryanya sangat tinggi dan berkualitas. Kehidupan yang serba kekurangan tak menyurutkan untuk membuat karya yang bagus, seperti saat pemerintah mengumumkan siapa saja boleh mengirimkan naskah lagu untuk dijadikan Lagu Wajib Nasional, Pak Sartono rela menjual Jas dan sepatunya ke pasar loak untuk biaya dan proses pengiriman naskah lagu tersebut.

Perjuangan Pak Sartono tak sia-sia, naskah lagu yang dikirimkan berhasil dipilih dari banyak naskah yang masuk, akhirnya Pak Sartono saat itu diundang ke Jakarta untuk menerima hadiah dan penghargaan.

Namun setelah itu kehidupan Pak Sartono tak mengalami perubahan, bahkan istri Pak Sartono melakukan kerja sampingan sebagai anggota Seni Ludruk di daerahnya sambil tetap menjadi guru.

Sekarang Pak Sartono dan keluarga memenuhi kebutuhan hidupnya mengandalkan pensiunan istrinya serta hasil dari pementasan Ludruk. Pak Sartono sudah lanjut usia dan tak bekerja lagi.

Inilah dua potret kehidupan anak bangsa yang telah membuat karya besar untuk Bangsa Indonesia namun kehidupannya masih sangat sederhana dan karyanya masih kurang mendapatkan apresiasi yang layak. Hak-hak mereka terlupakan begitu saja.


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google

27 Responses to “Hak Yang Terlupakan”

  1. latree says on :

    yang lebih mengagumkan adalah kebesaran hati keduanya. semoga BI dan pemerintah memberikan yang menjadi hak mereka.

  2. alamendah says on :

    Saya malah baru tahu siapa yang melukis Sultan Mahmud Badarudin II.

  3. tomtom says on :

    GAK tau tu Tim cetak uang BI apa gak mikir ya, asal usul itu lukisan. heran. nyetak duit asal nyetak duit. pfftt

    semoga pak eden berhasil mendapatkan royalty amin :D

  4. aswi says on :

    Loh loh loh. Kok?

  5. A jazi says on :

    yah pemerintah sekarang sibuk bagi-bagi uang pada kroninya dengan berbagai cara…apapun di manipulasi demi kepentingan kekuasaan dan kelompok lingkaran penguasa…

  6. isnuansa says on :

    Trims Teh Ani, udah nulis ini di blog. Saya nggak pernah tahu kalau gambar sultan di uang itu adalah lukisan, kirain ya foto biasa..
    Lagu Pahlawan Tanpa Tanda Jasa-pun bisa saya nyanyikan tanpa tahu siapa penciptanya. :(

  7. Dieng says on :

    tulisan yang inspiratif.

  8. rahmiaziza says on :

    wah kick andy bs aja ya menemukan orang2 yang tidak pernah terpikirkan oleh kita.
    makasih mba, saya yang ngga nonton kick andy jd tau siapa yg bikin gambar di duit 10rb an itu, salam kenal ya…

  9. kopi ginseng says on :

    selalu telat…

  10. qurathun says on :

    kenapa sih di Indonesia gak seperti negara luar yang sangat mengapresiasi hasil karya anak bangsanya… miris banget…

  11. JUAL BAJU COUPLE KOREA MURAH says on :

    Nice share, mbak. Memang Indonesia menurut aku negara yang miris untuk menghargai suatu jasa seseorang yang telah berkarya bagi bangsanya sendiri. Makanya, tidak heran masyarakat Indonesia merantau dan mencari negara-negara yang lebih maju yang mau menerima dan menghargai bakat atau potensi yang dimiliki mereka tersebut. Indahnya berbagi. :D

    LEMARI CINTA
    Membantu Kamu dan Doi Selalu Tampil Beda Dalam Setiap Suasana

  12. Obat Sinusitis Herbal says on :

    ya ampun,,mereka yang hebat kenap begitu terlupakan,,tak seharusnya dilupakan,,

  13. mechta says on :

    ah..turut prihatin.. semoga segera mendapatkan apresiasi yg layak atas hasil karyanya..

  14. Watashi Ahmad says on :

    terlalu banyak bangsa ini meremehkan hasil perjuangan para orang tua kita..banyak kasus yang terjadi sekarang, mulai dari seni, olahraga, dan kehidupan lainnya..

  15. dudi suswandi says on :

    waduh ..indonesia memprihatinkan yach

  16. Karpet Berkualitas says on :

    turut prihatin. semoga BI dan pemerintah segera memberikan apa yg menjadi hak kedua tokoh tersebut.

  17. Lidya says on :

    kalau bukan karena tulisan ini aku tidak tahu siapa pelukisnya loh mbak.

  18. Surya says on :

    Baru tau aku mbak kalau pelukis Sultan Mahmud Badarudding di uang 10000 itu pak Eden. Kebetulan aku juga ga nonton kick andy yang episode itu..

    Memang, hak cipta itu penting untuk melindungi karya cipta dan pembuatnya itu sendiri

  19. batik solo online says on :

    thanks for sharing nya..buat para pencipta karya karya yang lain agar lebih waspada lagi untuk melindungi karya mereka biar tidak diakui oleh pihak lainnya.

  20. harmony says on :

    sayang banget yah teh anny… hal kecil begitu saja terlewatkan, bagaimana yang besar…

  21. bintangtimur says on :

    Mbak Annnyyyyy…saya baru datang lagi, maaf ;)

    Sependapat mbak, karya seseorang, berupa apapun itu yang akan dipublikasikan oleh orang lain *apalagi pemerintah* seharusnya dengan seijin pemilik karya asli itu sendiri.

    Ide itu sangat mahal. Namun memberikan penghargaan pada orang yang menciptakan ide tersebut sesungguhnya adalah kewajiban…

  22. yuniarinukti says on :

    Membaca kisahnya Pak Eden mengingatkan saya akan Pak Raden yang juga sedang menunggu royalti dari film si Unyil, semoga haknya segera teralisasi Pak..

  23. gusthy says on :

    betul2 negara pelupa…

  24. 'Ne says on :

    sungguh ironis ya mbak..

  25. Teeshoot says on :

    Waaahhh… ironis bgt nasib mereka… Tugas kita jg sebagai Blogger untuk turut mengangkat nama2 mereka

  26. Miftahur says on :

    Subhanalloh… Pahlawan Bangsa mereka itu… :’(

  27. Jony iskandar says on :

    Bagaimana negeri ini bisa maju… Hak tidak diakui…galau…

Leave a Reply